Menu

BEM

Oleh : Nurdin, Mahasiswa STIA Tabalong, Administrasi Publik Semester IV, Hari itu Rabu, Sembilan Maret Dua Ribu Enam Belas. Tidak ada yang beda pada hari itu, selain pagi yang agak berawan dan terlihat mendung, yang membuat hati nampak ragu untuk pergi menyadap kekebun karet dengan ukuran 80 m x 100 m. Namun, karena tuntunan ekonomi maka kami menguatkan hati yang nampak ragu ini untuk tetap pergi kekebun karet untuk menyadap, sambil berdoa didalam hati kepada Sang Khalik semoga hari itu tidak hujan. Sesampai dikebun saya bersama keluarga, terdiri tiga orang, mama dan kaka. Langsung melakukan aktivitas seperti biasa, yakni mengasah alat untuk menyadap atau pisau deres/sada/pahat ( Pahat, Banjar, red) supaya tajam. Sehingga dalam penggunaan dalam aktivitas penyadapan bisa dilakukan dengan cepat dan mudah. Setelah itu, kami bersama langsung menyadap pohon karet satu per satu tanpa ada yang terlewatkan, namun ada hal yang dengan tiba-tiba berubah hari itu, setelah pohon karet yang kami sadap menyisakan beberapa baris pohon lagi untuk selesai penyadapan. Hati kami sempat panik, karena mengira akan turun hujan. Bagaimana tidak, saat itu hari semakin gelap dan seolah-olah nampak akan hujan. Saat itu kira –kira jam menunjukan sekitar pukul delapanan wita. Sudah menjadi kebiasaan jika hendak turun hujan kami pasti panik, dan bergegas mengambil air dialiran sungai dengan menggunakan Gayung ( Gayung : Ember, red) yang kemudian dicampurkan dengan sedikit cairan yang dalam botol yang sering disebut dengan nama diorap yang digunakan untuk mempercepat proses pengentalan karet didalam mangkok, atau sering disebut dengan karet lump, dengan cara mencampurkan cairan tersebut dengan getah karet yang ada di dalam mangkok Karet Lump adalah getah karet yang terbentuk pada mangkok penampung getah /lateks pohon karet beberapa saat setelah penyadapan. Menurut Standar Mutu yang kini berlaku, proses penggumpalan harus terjadi secara alami. Begitulah info yang saya ketahui ketika belum lama tadi berselancar dijejaring sosial dan mengunjungi halaman situs kdei-taipei.org tentang mutu karet. Kembali ketema, belum selesai melakukan pengerasan getah karet pada wadah mangkok, ( Maubati, tanjung) tiba-tiba datang gelap secara perlahan yang membuat bulu diseluruh tubuh berdiri dan merinding serta membuat hati bergetar.belum sempat gelap kami segera bergegas keladang/ pondok untuk untuk beristirahat. Percaya tidak percaya saat proses itu berlangsung, tidak ada satu pun suara yang terdengar ditelinga. Tidak ada suara burung, belalang, cacing-cacing ataupun hewan-hewan lainnya. Bahkan saat itu, angin pun tidak berhembus, bunyi aliran air yang biasanya terdengar pun tidak bersuara. Saat itu keadaaan benar-benar sangat hening sekali seolah tak ada tanda-tanda kehidupan. Hal itu lah yang semakin membuat hati, jiwa dan raga bergetar dan merinding. Yang membuat kami merenungkan betapa menakjubkan dan dahsyatnya kekuasaaan Allah yang menciptakan siang dan malam. Hati semakin bergetar tatkala terdengar suara adzan dari pemukiman warga yang tidak begitu jauh dari kebun karet kami. Dengan keadaan yang gelap serta diringi lantunan suara adzan semakin membuat suasana yang sangat khusuk, yang membuat hati dan tubuh ini gemetar, belum lagi bulu kuduk yang berdiri sangat tegang yang membuat tubuh ini semakin kaku. Tidak bisa kami gambarkan saat itu perasaan kami seperti apa. Berada ditengah-tengah hutan dengan keadaan gelap gulita yang sebelumnya adalah siang. Subhannallah, siapa pun yang mengalami sendiri fenomena tersebut pasti akan sama dengan apa yang kami rasakan dan juga pasti akan menyebutkan nama Allah. Perkiraan kami sekitar lima menitan waktu kami termenung dengan keadaan yang gelap, yang kemudian perlahan-lahan muncul seberkas sinar, yang perlahan-lahan semakin bercahaya. Suara adzan yang dilantunkan muadzin terus bergema selama keadaan gelap tanpa cahaya kemudian ada cahaya. Seiring dengan habisnya suara adzan yang dilantunkan habis pulalah keadaan gelap yang sempat membuat rasa takjub dan pasrah atas fenomena yang sangat langka ini. Nampak terlihat dari wajah wanita yang kami cintai, keluar air matanya sambil tak henti bibirnya mengucap Tasbih dan Dzikir atas fenomena ini. Lantas hal itu membuat hati kami pilu. Entah apa yang beliau pikirkan, kami tidak mengetahuinya. Setelah fenomena itu, kami langsung berpikir inikah Gerhana itu? Gerhana adalah peristiwa dilangit yang sangat menakjubkan. Akibat tertutupnya sebuah objek, disebabkan adanya benda/objek yang melintas di depannya. Kedua objek yang terlibat dalam gerhana ini memiliki ukuran yang hampir sama jika diamati dari Bumi. Contohnya gerhana Matahari dan gerhana Bulan. Begitulah penjelasan ilmiahnya yang saya dapatkan ketika masih makan dibangku sekolah. Namun, jika ditilik dari sisi relegius, kejadian ini semata-mata karena Yang Maha Pencipta berkehendak. Ini adalah salah satu tanda kekuasaan yang Allah tunjukan, agar kita senantiasa mensyukuri nikmat dan anugerah yang telah diberikan kepada kita semua. Ibu kami lalu memberikan sedikit nasehat kepada kami, sembari bertanya bagaimana rasanya menemui fenomena yang bisa dikatakan maha dahsyat yang sangat langka terjadi, yang mungkin hanya bisa ditemuinya satu kali dalam kehidupannya. Dia menekankan kepada kami agar selalu ingat kepada Yang Maha Esa. Jangan merasa bangga dan hebat serta sombong jika ada kelebihan yang kamu miliki. Jangan pernah merendahkan orang ada dibawah mu. “ Coba rasakan bagaimana kejadian tadi berlangsung, dengan baik dan sempurnanya Allah mengatur benda-benda yang ada dilangit, sehingga tidak saling bertabrakan. Bandingkan dengan jalan yang sudah ada rambu-rambunya, ada petugas yang menjaganya namun masih saja banyak yang kecelakaan”, katanya menasehati. “ Coba dengar tadi, apakah kalian memperhatikan. Adakah suara burung-burung, cacing, adakah angin yang berhembus ?”, tanyanya. Kami menjawab dengan termenung, sambil masih merasakan betapa luar biasanya kejadian yang baru saja berlalu. “ rasanya tidak ada apa-apa yang kami dengar, selain suara adzan yang membuat kami terdiam”, jawab kami. Lalu kemudian beliau memberitahukan kami, mungkin saja semua makhluk Tuhan saat kejadian itu bersujud dan mengucap Dzikir dan Tasbih atas kuasa yang telah ditunjukan Allah, jawabnya sambil tersenyum. (mercubenua/dn)

0 komentar:

Post a Comment

 
Top